PEPERANGAN KASUS KPK DENGAN SETYA NOVANTO

Peperangan Kasus KPK

Peperangan  kasus KPK,  Komisi Pemeberantasana Korupsi resmi mengumumkan status tersangka Setya Novanto dalamkasus dugaan korupsi proyek e-Ktp. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi mengumumkan status Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Mengatakan KPK memiliki bukti yang relevan atas penetapan status tersangka terhadap Setya Novanto. Setelah proses penyelidikan kemudian pimpinan KPK bersama tim penyelidik melakukan gelar perkara akhir Oktober. KPK menerbitkan SPDP 31 Oktober atas nama tersangka SN kata Saut dalam jumpa pers di Kantor KPK.

Menurutnya, Setya Novanto selaku anggota DPR bersama-sama dengan Anang Sudiharjo, Andi Agustinus, Irman dan Sugiharto. Diduga menguntungkan orang lain, korporasi karena jabatan atau kewenangan. Sehingga diduga atau sekurang-kurangnya Rp 2,3 triliun dari nilai paket Rp 5,9 triliun. Penerapan KTP elektronik pada Kementerian Dalam Negeri,” katanya.

Setya Novanto yang juga ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar itu disangka melanggar. Pasal 2 ayat 1 sub pasal 3 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Status tersangka ini merupakan kali kedua bagi Setya Novanto. Sebelumnya, KPK juga pernah menjadikan Setya Novanto menjadi tersangka. Namun status itu batal setelah Setya Novanto menang praperadilan.

Usai penetapan tersangka yang pertama, Novanto melaporkan Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Saut Situmorang. Selain itu sejumlah penyidik juga dilaporkan ke Polri. Bahkan, SPDP Agus dan Saut telah keluar. SPDP itu kelanjutan dari pelaporan kuasa hukum Setya Novanto Sandi Kurniawan dengan nomor LP/1028/X/2017/Bareskrim.

Agus dan Saut dilaporkan pada Oktober 2017 atas dugaan tindak pidana membuat surat palsu Dan penyalahgunaan wewenang. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan atau Pasal 421 KUHP. Agus dan Saut dianggap menyalahgunakan wewenang setelah menerbitkan surat permintaan cegah ke luar negeri. Terhadap Setnov kepada pihak Imigrasi pada 2 Oktober lalu.

Peperangan Kasu KPK

Penertiban surat pencegahan ke luar negeri itu dinilai kuasa hukum melangggar hukum setelah Setya Novanto. Memenangkan praperadilan atas status tersangka kasus proyek e-KTP. Kendati SPDP telah dikeluarkan, status Agus dan Saut bukan sebagai tersangka melainkan terlapor. Kini, usai ditetapkan sebagai tersangka kembali Novanto lagi-lagi melaporkan KPK ke Polri. Kuasa Hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi resmi melaporkan pada Jumat malam.

Sebelumnya usai penetapan, Fredrich mengatakan bakal mengambil langkah hukum dengan melaporkan KPK ke polisi dan kembali mengajukan praperadilan. Fredrich beralasan KPK melanggar putusan praperadilan. Menurut dia, dalam putusan praperadilan Novanto saat itu. Salah satu poin adalah menghentikan penyidikan dan sprindik kasus e-KTP. Lantaran penetapan Novanto atas pengembangan tersangka Irman dan Sugiharto.

Sementara itu, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan soal putusan praperadilan. Memang ada beberapa bagian yang dipertimbangkan sampai amar putusan membuat kaitan tadi. Febri menambahkan, sesuai dengan UU, KPK sudah melakukan pencarian bukti. Sebelumnya, Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Cepi Iskandar memutuskan penetapan tersangka. Kasus korupsi e-KTP terhadap Setya Novanto tidak sah. Putusan ini diambil setelah hakim mengabulkan tiga dari tujuh poin gugatan yang dilayangkan Ketua DPR Setya Novanto.

Salah satu poin gugatan yang dikabulkan yaitu penetapan tersangka Novanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak sah. Cepi Iskandar berkesimpulan, KPK tidak menjalankan prosedur dan tata cara sesuai ketentuan perundang-undangan. Kedua, Cepi mengabulkan permohonan Novanto yang menyatakan. Jika penetapan tersangka oleh KPK berdasarkan surat nomor 310/23/07/2017 tertanggal 18 Juli 2017, dilakukan secara tidak sah.

SILAKAN DIBACA: RIDWAN KAMIL TIDAK MAU BERNASIB SEPERTI AHOK

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *