RENCANA PEMUTARAN FOL G30D/PKI

Rencana Pemutaran

Rencana Pemutaran, Terkait rencana pemutaran film Gerakan 30 September /PKI G30S pendapat perhatian ketua Lembaga Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Atau yang akrb disapa Kak Seto perhatian kak Seto disampaikannya lewat rilis. Yang melalui Ketua Lembaga Perlindungan Anak Riau Esther Yuliani.

Kak Seto menuliskan tidak mudah kiranya untuk pukul rata melarang atau pun mengizinkan anak menonton film tersebut. Sebab anak adalah individu berusia 0 hingga 18 tahun , Individu berumur 4 tahun dan 17 tahun. Walau sama-sama  berusia anak namun punya dinamika psikologis yang berada dalam satu sama lain.

Kesiapan mereka untuk menonton  kesiapan meraka untuk menonton suatu film pun berbeda satu dan lainnya. Tambahan lagi Film Pemnghianatan G30S berangkat dari kisahnyata tentang kisahnyata. Hidoris memang sudah sepantasnya di ketahu generasi muda.

Proses pembelajaran yang baika adalah yang memberikan rangsangan multiinderawai kepada anak. Pemanfataan film sebagai  kelengkapan kegiatan belajar termasuk belajar sejarah. Sesungguhnya sudah menjadi praktek jamak dan itu bagus. Namun kegiatan belajar memang sepatutnya tidak hanya mengendalikan film.

Rencana Pemutaran

Apalagi Riset-bukan pemikiran awam sepatutnya bahwa pendekatan yang paling pasa adalah kepada anak. Juga disodorkan teks tentang substansi yang sama dengan tema film. Teks pemutaran film dilanjutkan dengan ajakan pendidikan kepada anak untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan.

Serba aneka perasaan yang dialami anak saat menonton film dijadikan sebagai pintu masuk bagi pendidik untuk mengedukasi anak. Tentang bagai mana mengindentifikasi kaitan antara situasi perasaan dan car mengelolahnya.

Simpulkan nilai-nilai  kesetian pada bangsa dan negara keyakinan pada kebenaran dan keadilan. Penyerahan diri pada pertolongan tuhan penghormatan akan jasa pahlawan serta optimisme akan masa depan. Akhir dengan menggali ide anak tentang bagaimana  mencegah terulangnya tragedi serupa. Ingat kearifan adalah produk dari kekuatan kognitif dan kepekaan afektif.

Memang membawa kejadian dan situasi masa silam ke mana kini boleh jadi bukan hal gampang. Pendidikan utamanya guru maupun orang tua harus memiliki wawasan juga agar bisa mendampingi anak meiti lintasan sejarah dengan tepat.

SILAKAN DICOBA: INDONESIA DAN SINGAPURA KERJA SAMA

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *