Bagaimana Umat Lain Dengan Tindakan Umat Buddha Yang Mengalah Dan Bijak?

Malu Rasanya Ketika Umat Buddha Yang Mengalah Dan  Tetap Dewasa Menurunkan Patung Buddha Di Tanjung Balai.

Umat Buddha Yang Mengalah Saat Idul Qurban, Wali Songo menganjurkan umat Islam tidak menyembelih sapi dan menggantikannya dengan kerbau. Di jaman itu, masyarakat Indonesia masih banyak penganut Hindu yang menganggap sapi adalah hewan suci. Ajaran Islam memang tidak melarang umatnya menyembelih sapi.

Tapi bagi para wali, menghargai penganut agama lain jauh lebih penting. Toh, dengan menyembelih kerbau, esensi Idul Qurban tidak bergeser. Kaum Muslim tetap bisa merayakan hari rayanya sedangkan umat Hindu tidak perlu sakit hatinya.

Begitulah ajaran Kanjeng Nabi Muhammad diperkenalkan di Indonesia. Para wali menyampaikan sebuah ajaran yang ramah, penuh toleransi dan menjaga harmoni. Bukan ajaran yang hobi menghardik dan mencaci. Bukan agama yang kebenarannya hanya bisa dibuktikan dengan menyalahkan keyakinan orang lain.

Tapi tampaknya semangat Wali Songo kini meluntur. Di Tanjung Balai Asahan, Sumareta Utara, ada sebagian Umat Islam yang merasa terganggu dengan patung Buddha yang berdiri di atas sebuah Vihara. Rumah Ibadah itu dibangun sejak lama. Tapi rupanya banyak Muslim baperan. Mereka merasa keimanannya terganggu dengan simbol-simbol agama lain.

Entah dari mana rumusnya, sebuah patung Buddha bisa dianggap menganggu keimanan seorang muslim. Lalu mereka ramai-ramai mengusahakan agar patung itu diturunkan. Apakah dengan merobohkan patung itu akan makin bertambah keimanan umat Islam di Tanjung Balai Asahan? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, ada rasa sakit yang dirasakan penganut Buddha di sana, ketika patung itu diturunkan dari atas Vihara. Setiap umat beragama pasti punya simbol-simbol sakralnya sendiri.

Karma Zopa Gyaatsho, pemuka Budha di Tanjung Balai Asahan menulis di dinding Facebook-nya, “…Tidak apa-apa rupang Buddha turun, sing penting welas asihmu terhadap semua makhluk tidak ikut turun. Semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Apabila dengan turunnya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu, ‘semoga semua makhluk hidup berbahagia’ menjadi kenyataan?”

Ketika membaca status FB itu, entah kenapa, kok saya jadi merasa malu.

Baca juga berita lainnya di 88judipoker

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *